Sabtu, 28 Desember 2019

MEDIA PEMBELAJARAN

Pengembangan Media Pembelajaran,
Menerapkan Model dalamPengembangan Media Pembelajaran
Description: Logo baru
 







MAKALAH
Makalah ini diajukan sebagaitugasmata kuliah media pembelajaran
Semester II, Tahun Akademik 2018/2019

Oleh:
Abdul Malik Lahmuddin
80200218036


Dosen Pemandu:

Dr. Muhammad Yaumi, M.Hum, MA
Dr. Muhammad Yusuf T., M. Pd.I

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
                                            PASCASARJANA UIN ALAUDDIN MAKASSAR

                                                                           

BAB I.     
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidik adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggungjawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan, oleh karena itu pendidikan diharapkan benar-benar diarahkan untuk menjadikan peserta didik mampu mencapai proses pendewasaan dan kemandirian.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memilki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia pendidikan sebagai salah satu bagian tidak terpisahkan dari proses pendewasaan manusia tentu di satu sisi memilki andil yang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.[1]
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajara juga dapat membangkitkan keinginan dan minta yang baru bagi siswa, membagkitkan motivasi belajar, dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, media juga menngkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran
Media pembelajaran merupakan penyalur pesan dan informasi belajar. Di era mederen ini, perkembangan media pembelajaran semakin maju. Media berfungsi untuk mengarahkan siswa untuk memperoleh berbagai  pengalaman belajar (learning experience) yang ditentukan oleh interaksi siswa dengan media. Media yang tepat sesuai dengan tujuan akan mampu mempertinggi hasil pembelajaran. Argument ini sejalan dengan pendapat Edgare Dale dengan teori cone experience yang menajdi dasar pokok penggunaan media dalam proses pembelajaran.[2]
Kemudian dengan merujuk pada latar belakang diatas saya menarik rumusan masalah sebagai berikut:
B.   Rumusan Masalah

1.      Apakah yang di maksud media pembelajaran?

2.      Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran?

3.      Bagaimana Menerapkan Model dalam Pengembangan Media Pembelajaran?
                                          BAB II
                                         PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media Pembelajaran
Media memiliki konotasi yang terlalu luas dan kompleks. Kesulitan mendefinisikan media sangat terasa apalagi dikaitkan dengan beberapa istilah lain seperti sistem penyajian dan teknologi pembelajaran . Media berasal dari bahasa latin yang berarti antara atau perantara, yang merujuk pada sesuatu yang dapat menghubungkan informasi antara sumber dan penerima informasi.[3] Senada dengan pendapat arsyad bahwa Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar.[4] Jadi media dapat dipahami sebagai perantara pesan atau pengantar pesan. Dan Newby berpendapat media adalah saluran informasi (channels of communication) Adapun saluran komunikasi adalah alat yang membawa pesan dari seorang individu ke individu lainnya (Rogers, 2003).[5] Dari pendapat diatas sangat jelas pengetian media yakni sebagai saluran informasi yang membawa pesan dari individu ke individu lainnya, sebagai perantara dan tentunya media sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari.
Istilah lain yang sering dikaitkan dengan media pembelajaran adalah sumber belajar dan alat peraga, media sebagai fasilitator yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja.[6]
B.     Pengertian Model Pembelajaran
Arends berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.[7] Sedangkan Trianto mengatakan model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan guru dalam melaksanakan pembelajaran.[8] Senada dengan pendapat di atas dpata dipahami bahwa model pembelajaran adalah sebuah pegangan atau rujukan yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pembelajaran.
Menurut Yaumi sendiri model adalah sesuatu yang menggambarkan polapikir, keseluruhan konsep yang salin berkaitan, konkretisasi teori, dan analogi serta representasi dari variabel yang terdapat di dalam teori. Model juuga menggambarkan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh dalam menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif dan efisien.[9]
Secara umum istilah model dapat dipahami melalui makna yang terdapat dalam Online Business Dictionary bahwa yang dimaksud dengan model adalah representasi grafis, matematika (simbolik), fisik, maupun lisan atau versi sederhana dari suatu konsep, fenomena, hubungan, struktur, sistem, atau aspek dari dunia nyata. Devinisi ini mencakup seluruh jenis model mulai dari sederhana sampai model teknologi canggih, mulai dari model yang sedikit abstrak sampai model dalam bentuk fisik.Definisi lain diberikan oleh Snelbecker (1974: 32) yang mengatakan bahwa model adalah konkretisasi/perwujudan teori yang dimaksudkan untuk menjadi analog atau wakil dari proses dan variabel yang terlibat dalam teori). [10]
Definisi ini menekankan bahwa model adalah sesuatu yang berwujud dalam bentuk fisik atau dapat dikatakan merupakan penjabaran teori untuk dijadikan acuan dalam menjalankan sesuatu. Model yang dikemukakan di sini lebih khusus pada representasi analogi dari suatu konsep dan teori.4 Definisi yang lebih spesifik diberikan oleh Pradiwaradilaga (2007: 33) yang mengartikan model sebagai tampilan grafis, prosegur kerja yang teratur dan sistematis, serta mengandung pemikiran bersifat uraian atau penjelasan berikut saran. Terdapat tiga komponen yang menjadi penekanan dalam definisi ini, yakni: (1) tampilan grafis; bagan, skema, peta, dan diagram jaringan, (2) prosedur kerja yang teratur dan sistematis; LKS/LKM modul, buku ajar, buku petunjuk belajar, metode, strategi, media, dan sebagainya, serta (3) pemikiran bersifat uraian atau penjelasan; model yang merepresentasikan teori dan konsep seperti teori belajar dan pembelajaran, psikologi, komunikasi, bisnis, perdagangan, dan sebagainya.
C.      Menerapkan Model dalam Pengambangan Media Pembelajaran
Model-model pengembangan pembelajaran telah dirumuskan oleh banyak ilmuwan teknologi pembelajarn dan ilmuwan lainnya. Namun tidak semua dapat digunakan untuk mengembangkan media dan teknologi  pembelajaran.  Setiap model memilki keunggulan dan kelemahan serta dapat diarahkan sesuai dengan jenis produk pembelajaran yang dikembangkan. Misalnya, jika mengembangkan sistem pembelajaran jarak jauh, blended learning, atau e-learning, maka model yang sesuai adalah model yang berorientasi sistem dan salah satunya adalah model Dick, Carey, and Carey. Begitu pula jika mengembangkan bahan ajar, media, dan sytategi pembelajaran, maka model yang sesuai adalah model yang beorientasi ruang kelas dan salah satunya adalah model ASSURE. [11]
1.      Model ASSURE
Model ASSURE dikembangkan oleh Sharon Smldino, James Rusell, Robert Heinich, dan Michael Molenda. Penamaan ASSURE diangkat dari komponen Analyze learner characteristics, State Standard and objectives, Select strategies dan sumbe, Utilize reseources, Require learner participation, Evaluate and Revise, Langkah pertama dalam mendesain media dan teknologi pembelajaran adalah:
a.       Analisis Karakteristik Peserta Didik
Gafur dalam bukunya ‘Disain Instruksional’ menyebutkan, tujuan utama para guru untuk mengetahui semua aspek keadaan individu pembelajar/siswa ialah untuk dapat memilih pola-pola pembelajaran yang lebih baik, yang paling menjamin kemudahan belajar bagi setiap siswa.[12] Jadi disni kita menganalisis karakteristik peserta didik, kita kita melihat gaya belajarnya yang dimilki peseerat didik, keterampilan atau kompetensi yang harus dimilki oleh peserta didik, atau gaya belajar yang biasa disukainya.
b.      Menentukan Standard dan Tujuan Pembelajaran
Langkah kedua dalam model ASSURE adalah menyatakan standar tujuan pembelajaran.[13] Standar tujuan yang dimaksud disini adalah bagaimana kemampuan pserta didik dalam menyelasaikan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran mencakup tujuan yang diangkat dari kurikulum dan standar teknologi termasuk penggambaran tentang hasil kinerja peserta didik yang diangun atau dikembangkan pada satuan pendidikan atau menurut standar nasional pendidikan.[14]

.
c.       Memilih Strategi dan Sumber
Ketika berhasil menganalisis karakteristik peserta didik dan merumuskan tujuan pembelajaran, berarti telah mengkaji pengetahuan keterampilan, dan sikap peserta didik saat ini dan merumuskan  model pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan dating sebagai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu jembatan yang menghubungkan kedua komptensi tersebut, yakni memilih strategi dan sumber.[15]dalam memilih startegi pembelajarn kita diberi pilihan memilih strategi konvensional atau strategi pembelajaran aktif yang dimana peserta didik yang lebih aktif dan guru sebagai fasilitator dan pembimbing. Dan tidak dikatan juga bahwa startegi pembelajaran aktif lebih baik dari strategi konvensional. Karena itu tergabtung dari kesiapan peserta didik, kemampuan gutu, da ketersideiaan sumber belajar.
Memilih sumber merujuk pada memilih teknologi, media dan materi yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Dalam menyeleksi materi pendukung, perlu memperhatikan tiga langkah; yaitu: pertama, memilih materi yang tersedia, kedua, memodifikasi materi yang sudah ada, ketiga, mendesain materi baru.
d.      Memanfaatkan Sumber
Bagian ini mencakup langkah untuk menentukan peranan instruktur, pendidik, atau pengembang sebagai guru untuk memanfaatkan media, teknologi, bahan ajar untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Untuk memudahkan pemanfaatannya dapat dilakaukan melalui proses 5 P, yakni:
1)      Preview (tinjauan, meninjau) media, teknologi, dan bahan ajar.
2)      Prepare, (menyediakan) media, teknologi dan bahan ajar yang berarti praktik menggunakannya sebelum pelaksanaan pembelajaran.
3)      Prepare enviroanment (persiapkan lingkungan) belajar yang memadai, yang berarati sarana dan prasarana atau fasilitas yang dapat menunjang proses pembelajaran.
4)      Preapare the learnes (persiapkan peserta didik), bagaimana melibatkan peserta didik sepenuhnya dalam pelaksanaan pemelajaran.
5)      Prepare the learning experience (persiapan pengalaman belajar) yang mencakup kondisi dan strategi pembelajaran.[16]
e.       Melibatkan Partisipasi Peserta Didik
Keterlibatan pserta didik dalam proses pembelajaran sangat diperlukan, untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Teradapat banayak aktivitas pembelajaran yang dapat diterapkan yang dapat mendorong peserta didik mempraktikkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru dan untuk menerima umpan balik berdasarkan tingkat kesesuaian upaya mereka sebelum secara formal melakukan penilaian.
f.       Evaluasi dan Revisi
Setelah melaksanakan pembelajaran, sangat penting melakukan valuasi untuk mengetahui dampak dari pelaksanaan pembelajaran terhadap prestasi beljar siswa. Evaluasi tidak hanya terbatas pada tingkat pengetahuan yang dicapai oleh siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran, tetapi juga mengukur keseluruhan proses pembelajaran termasuk dampak dari penggunaan media dan teknologi. Jika tedapat kelemahan, atau kleiriuan termasuk tentang bahan ajar, maka perlu dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan, walaupun sudah pernha dilakaukan secara sebelumnya tetapi bukan berarti semuanya sudah sempurna.. oleh karena itu, dalam melakukan evaluasi dan revisi perlu mempertimbangkan tahapan sebagai berikut:
1)      Gunakan penilaian autentik dan tradisional untuk menentukan prsetasi siswa berdasarkan standard an tujuan.
2)        Memeriksa keseluruhan proses pembelajarandan dampak dari penggunaan media dsn teknologi dalam pembelajaran.
3)      Jika tedapat perbdaan antara tujuan dan hasil belajar, revisi perencanaan pembelajaran untuk lebih menekankan pada focus yang menajdi perhatian utama. Ketiga tahapan ini dapat dilakaukan secara berulang-ulang jika hasil belajar tidak sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam perencanaan pembelajaran.[17]

2.      Model PIE
Model PIE merupakan akronim dari Plan, Implement, dan Evaluate. Model ini dikembangkan oleh Timothy J. Newby dan James D. Russel. Model ini dikhususnya untuk pengembangan teknologi pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran.
            Pertama, perencaan difokuskan pada apa yang sesungguhnya peserta didik dibutuhkan untuk belajar termasuk kapan, mengapa, dan bagaiamana cara yang efektif untuk mendaptkan hasil elajar yang baik dan berkualitas. Hasil akhir dari perencanaan adalah produk berupa ikhtisar, Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP), atau cetak biru (blue print) dari pengalaman belajar yang   dapat mengarahkan tujuan pembelajaran. Perencanaan dilakukan untuk membantu pengembang pembelajaran dalam menggambarkan secara jelas  tentang pengetahuan dan keterampilan yang dimilki peserta didik sebelum dilaksanakan pembelajaran dan pengetahuan dan keterampilan yang seharusnya dimilki oleh mereka, serta jenis media dan teknologi, bahan, dan strategi pembelajaran untuk meminimalisasi kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimilki saat ini dengan yang seharusnya dikuasai.
Kedua, implementasi atau pelaksanaan difokuskan pada meletakkan perencanaan dalam tindakan berdasarkan kendala dan hambatan yang mungkin terjadi dengan menggunakan bahan pembelajaran yang telah dipilih sebelumnya, dan berbagai bentuk aktivitas yang menunjang pelaksanaan pembelajaran. Bagi peserta didik, implementasi merupakan suatu pengalaman belajar yang dilaksanakan dengan memperhatikan lingkungan belajar, waktu, dan cara atau metode yang digunakan untuk merevisi perencanaan dan implementasi pembelajaran pada amsa yang akan dating agar dapat mendapatkan hasil yang memuaskan.
3.      Model Roblyer
Model ini dikenal dengan model TIP yang merupakan akronim Tchnology Integration Planing (Perencanaan Integrasi Teknologi).model TIP ini dikembangkan oleh M. D. Roblyer pada tahun 2003, Model TIP merupakan cara sistematis untuk menintgrasikan media dan teknologi ke dalam pembelajaran melalui lima fase yakni[18]:
a.       Menentukan Keuntungan Relatif
Fase pertama model TIP adalah penentuan keuntungan menintegrasikan media dan teknologi ke dalam pembelajaran. Hal ini penting untuk mengetahui berbagai aspek memungkinkan integrasi dilakukan termasuk mengkaji beberapa aspek yang ,elatarinya seperti dikemukakan oleh Rogers dan Roblter yaitu: kesesuaian, kesulitan, keterujian, dan keteramatan.
b.      Menentukan tujuan
Pada tahap ini pendidik menentukan pengetahuan dan keerampilan yang ingin dipelajari oleh peserta didik sekaligus mentapkan instrument penilaian untuk mengukur dan menilai pelajaran yang telah diperoleh peserta didik dengan mnggunakan media dan teknologi yang telah diintergrasikan.[19]
c.       Merancang Strategi Integrasi
Pada bagian ini pendidik perlu menentukan strategi mengajar dan bentuk aktivitas yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dalam strategi integrasi media dan teknologi, perlu mempertimbangkan seperti: karakteristik topic-topik bahan pembelajaran, kebutuhan peserta didik, dan metode yang sesuai dengan lingkunagn  belajar.
d.      Menyediakan Lingkungan Belajar
Penyediaan lingkungan belajar merujuk pada pengaturan dan pengelolaan tempat, sarana dan prasaran yang memungkinkan diterapkan teknologi scara efektif dalam pembelajaran.[20]
e.       Mengevaluais dan merevisi
Setelah semua itu terungkap atau terlaksana, langkah selanjutnya adalah melakukan  revisi berdasarkan berbagai kelemahan dan keterbatasan yang ada. Dengan demikian, penggunaan tknologi dapat memberi konstribusi posistif dalam menngkatkan hasil belajar.

4.      Model Hannafin dan Peck
Model ini disebut “the Computer Assisted Intruction” (pembelajaran berbantukan komputer). Terdapat empat kegiatan pembelajaran dengan alat bantu komputer: (1) latihan dan praktik; (2) tutorial; (3) permainan, atau game; (4) simulasi atau pemodelan (Hannafin dan Peck, 1988), berikut penjelasan terhadap empat aktivitas yang dimaksud.[21]
Pertama, latihan (drill) selalu dipasangkan dengan praktik (practice) karena keduanya merupakan rangkaian kegiatan yang saling beriringan dalam membangun pengetahuan dan keterampilan. Praktik merujuk pada kegiatan umpan balik yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Adapun drill merujuk pada kegiatan pengulangan (repetition) yang bertujuan untuk membangun penguatan (reinform cement) menuju tingkat automatisasi pengetahuan dan keterampilan. Kedua, tutoria merupakan program pembelajaran yang mengikuti fase-fase belajar mandiri secara bertahap untuk menanamkan konsep atau satuan belajar. Tutoria CAI mengharuskan pendidik menyediakan komputer untuk mengajarkan informasi baru.
Ketiga, game adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk tujuan memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui cara-cara yang menyenangkan. Dalam hubungannya dengan game.[22]
Keempat, simulasi atau pemodelan merupakan abstraksi dari realitas. Komputer dalam CAI dapat mensimulasi konsep-konsep atau kejadian yang kompleks. Komputer menerima input kemudian merespons seolah-olah sedang mensimulasikan suatu sistem, memungkinkan peserta didik menghasilkan keputusan yang baik dan jelek tanpa konsekuensi risiko atau biaya yang mahal.[23]












BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Berdasarkan beberapa sub pembahasan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Media pembelajaran sebagai perantara pesan atau pengantar pesan., saluran informasi juga sebagai saluran informasi yang membawa pesan dari individu ke individu lainnya, sebagai perantara dan tentunya media sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Model adalah sesuatu yang menggambarkan polapikir, keseluruhan konsep yang salin berkaitan, konkretisasi teori, dan analogi serta representasi dari variabel yang terdapat di dalam teori.
3.      Model-model pengembangan pembelajaran telah dirumuskan oleh banyak ilmuwan teknologi pembelajarn dan ilmuwan lainnya. Namun tidak semua dapat digunakan untuk mengembangkan media dan teknologi  pembelajaran.  Setiap model memilki keunggulan dan kelemahan serta dapat diarahkan sesuai dengan jenis produk pembelajaran yang dikembangkan. Adapun model-model pembelajara tersebut adalah. Model ASSURE, Roblyer, PIE dan model Hannafin dan Peck.


                         DAFTAR PUSTAKA
Darmadi, Pengemangn Model dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish, 2017.
Gafur, Abd.Disain Instrusional: Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar dan Mengajar. Surakarta: Tiga Serangkai, 1982.
Januszewski dan Molenda, Educational Technology (New York: Taylor and Francis Group, 2008.
Jurnal Pendididkan Akuntansi Indonesia, Vol, 8 , No. 2 Tahun (2010):
Muhaimin et. A, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Rosda, 2012.
Nizwardi Jalinus dan Ambiyar Media dan sumber Belajar.Jakarta: Kencana.
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatis.Jakarta: Kencana, 2010. 
Yaumi, Muhammad. Media Pembelajaran. Jakarta: Prenamedia, 2018.


[1]Jurnal Pendididkan Akuntansi Indonesia, Vol, 8 , No. 2 Tahun (2010): h, 1. 
[2] Nizwardi Jalinus dan Ambiyar Media dan sumber Belajar (Jakarta: Kencana), h. 2
[3]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran (Jakarta: Prenamedia, 2018), h. 5. 
[4]Nizwardi Jalinus dan Ambiyar Media dan sumber Belajar (Jakarta: Kencana), h. 2. 
[5] Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 5.
[6] Januszewski dan Molenda, Educational Technology (New York: Taylor and Francis Group, 2008), h. 213.
[7]Darmadi, Pengemangn Model dan Metode Pembelajaran (Yogyakarta: Deepublish, 2017), h, 41.
[8]Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatis (Jakarta: Kencana, 2010), h. 53.  
[9]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h.  81.
[10]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 81
[11]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 86.
[12]Abd Gafur, Disain Instrusional: Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar dan Mengajar (Surakarta: Tiga Serangkai, 1982), h. 59.
[13]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 87.
[14]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 87.
[15] Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 87.
[16]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran,  h. 90..
[17] Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran,  h. 91.
[18]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran,  h. 92.  
[19]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h.  94. 
[20] Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 95.
[21]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 95.
[22]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h. 96  
[23]Muhammad Yaumi, Media Pembelajaran, h.  97.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar