BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perubahan cara pendang terhadap siswa sebagai objek menjadi subjek
dalam proses pembelajaran menjadi titik tolak banyak ditemukannya berbagai
pendekatan pembelajaran yang inovatif. Ivor K. Davis mengemukakan bahwa “ salah
satu kecenderungan yang sering dilupakan adalah melupakan bahwa hakikat
pembelajaran adalah belajranya siswa dan bukan mengajarnya guru.
Guru dituntut dapat memilih model pembelajaran yang dapat memacu
semangat setiap siswa untuk secara aktif
ikut terlibat dalam pengalaman belajarnya. Salah satu alternative model
pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya keterampilan berfikir siswa
(penalaran, komunikasi, koneksi) dalam memecahakan masalah adalah pembelajaran
berbasis masalah. Peda kenyataannya, tidak semua guru memahami konsep SPMB
tersebut, baik disebabkan oleh kurangnya keinginan dan motivasi untuk
meningkatkan kualitas keilmuan maupun karena kurangnya dukungan sistem untuk
meningkatkan kualitas keilmuan tenaga pendidik.[1]
Salah satu cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan
SPBM, pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu pendekatan untuk
membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan
memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang ototentik serta menjadi
belajar mandiri.
Berdasarakan hal
tersebut, maka perlu kiranya ada sebuah bahan kajian yang mendalam tentang apa
dan bagaimana pembelajaran berbasis masalah ini untuk selanjutnya diterapkan
dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga dapat memberi masukan, khususnya
kepada para guru tentang pembelajaran berbasih masalah, yang menurut Tan
merupakan pendekatan pembelajaran yang relevandengan tuntutan abad ke-21 dan
umumnya kepada para ahli dan praktsi pendidikan yang memusatkan perhatiannya
pada pengembangan dan inovasi sistem pembelajaran[2].
Pada makalah ini,
akan dipaparkan mengenai startegi pembelajaran berbasis masalah, dan akan kami
uraikan dalam rumusan masalah tersebut
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengetian startegi pembelajaran berbasis masalah?
2.
Bagaimana
Karakteristik strategi pembelajaran berbasis masalah?
3.
Bagaimana
Tahapan-tahapan strategi pembelajaran berbasis masalah?
C.
Tujuan
1.
Dapat
mengetahui pengetian startegi pembelajaran berbasis masalah
2.
Dapat
mengetahui karakteristik strategi pembelajaran berbasis masalah
3.
Dapat
mengetahui Tahapan-tahapan strategi pembelajaran berbasis masalah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Berbasis Masalah.
Metode pemebelajaran model SPBM merupakan salah satu metode yang terbukti
dapat membantu mengurangi miskonpensi, SPBM
merupakan pendekatan yang berorientasi pada pandangan konstruvistik yang
memuat karakeristik kontekstual, kolaboratif, berpikir, dan memfasilitasi
pemecahan masalah.[3]
Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM), guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya
guru sudah mempersiapkan apa yang hrus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan
agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis.
Model pembelajaran berbasis masalah atau lebih spesifik Metode
pembelajaran berbasis masalah (Problem Solving) menurut Sudirman[4] adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan
menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Menururut Arends dalam Jamil, pembelajaran berbasis masalah
merupakan suatu pendekatan pembelajaran, yang mana siswa mengerjakan
permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka
sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat lebih tinggi,
mengembangkan kemandirian dan percaya diri.[5]
Menurut Tan dalam Rusman, pembelajaran berbasis masalah merupakan
inovasi dalam pembelajaran karena dalam pembelajaran berbasis masalah kemampuan
berfikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau
tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan
mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan.[6]
Senada dengan pendapat di atas dapat dipahami bahwa strategi pembelajaran
berbasis masalah (SPBM) merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah, juga
merupakan pengembangan dari inquiri karena
siswa dilatih dalam mengolah kemampuan berfikir dan kreatif, mengembangkan
kemandirian dan percaya diri.
Pembelajaran berbasis masalah dimaksudkan untuk meningkatkan
hasil belajar dan motivasi mahasiswa karena, melalui belajar berbasis masalah,
mahasiswa belajar bagaimana menggunakan sebuah proses iteratif untuk menilai
apakah yang mereka ketahui, mengidentifikasi apakah yang mereka ingin ketahui
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada
psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata
proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar
anatara individu dengan lingkungannya.[7]
Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena
atau wadah untuk mempersiapkan anak didik
agar dapat hidup di masyarakat, maka SPBM merupakan strategi yang
memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada
kenyataannya setiap manusia akan selalu dihadapkan kepada masalah, dari mulai
masalah sederhana sampai kepada masalah yang komplek, dari mulai masalah
pribadi sampai kepada masalah keluarga, masalah sosial kemasyarakatan, masalah
negara sampai kepada masalah dunia. SPBM inilah diharapkan dapat memberikan
latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang
dihadapinya.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka SPBM
merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk
memperbaiki sistem pembelajaran. Kita menyadari selama ini kemampuan siswa
untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh setiap guru.
Akibatnya manakala siswamenghadapi masalah, walaupun masalah itu dianngap
spele, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak
sedikit siswa yang mengambil jalan pintas, misalnya dengan mengkonsumsi
obat-obat terlarang atau bahkan bunuh diri hanya gara-gara ia tidak sanggup
menyelesaikan masalah
B. Karakteristik Strategi Pemvelajaran Berbasis Masalah
Pendidkan pada abad ke-21 berhubungan dengan permasalhan baru yang
ada di dunia nyata. Pendekatan SPMB berkaitan dengan pengunaan intelegensi dari
dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang, atau lingkungan
untuk memecahkan masalah yang bermakna relevan, dan kontekstual.[8]
SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan pada prose penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah.
Terdapat 3 ciri utama SPBM, yaitu :
1.
SPBM
merupakan merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam
implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. SPBM tidak
mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal
materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM siswa aktif berpikir, berkomunikasi,
mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2.
Aktivitas
pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. SPBM menempatkan masalah
sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak
mungkin ada proses pembelajaran.
3.
Pemecahan
masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah prose berpikir deduktif dan
induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis
artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu. Sedangkan
empiris artinya prose penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang
jelas.
Mengimplementasikan SPBM, guru perlu memilih bahan pelajaran yang
memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut bisa diambil
dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang
terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari
peristiwa kemasyarakatan.[9]
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan
jika :
1.
Manakala
guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi
pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
2.
Apabila
guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu
kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam
situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta
mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
3.
Manakala
guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat
tantangan intelektual siswa.
4.
Jika
guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
5.
Jika
guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan
dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).
Adapun karakteristik dalam pembelajaran berbasis masalah adalah
sebagai berikut;
1.
Permasalahan
menjadi starting point dalam belajar;
2.
Permasalahn
yang akan diangkat adalah permasalahan yang ada didunia nyata yang tiak
terstrukur;
3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective)
4. Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan
kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang
baru dalam belajar;
5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama;
6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi
sumber inforrmasi merupakan proses yang esensial dalam pembelajaran berbasis
masalah;
7. Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya
dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuahpermasalahan;
Keterbukaan proses dalam pembelajaran berbasis masalah meliputi sintesis dan
integrasi dari sebuah proses belajar.[10]
C. Hakikat Masalah dalam SPBM
Perbedaan antara
strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dengan strategi pembelajaran berbasis
masalah (SPBM) meliputi : pada jenis masalah dan tujuan yang ingin dicapai
dalam pembelajaran.
Masalah dalam SPI adalah masalah yang bersifat tertutup. Artinya,
jawaban dari semua masalah sudah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari
masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahaminya, namun
guru secara tidak langsung menyampaikannya kepada siswa. Dalam SPI tugas guru pada
dasarnya adalah menggiring siswa melalui
proses tanya jawab pada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin
di capai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tantang jawaban
dari suatu masalah.
Masalah dalam SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya
jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru, dapat
mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, SPBM memberikan kesempatan
pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara
lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai oleh
SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan
logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data
secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.[11]
Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara
situasi nyata dan kondisi yang diharapka, atau antara kenyataan yang terjadi
dengan apa yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya
keresahan, keluhan, kerisauan, atau kecemasan. Oleh karena itu, maka materi
pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber dari
buku saja, akan juga dapat bersumber dari peristiwa-peristiwa tertentu sesuai
kurikulum yang berlaku.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam SPBM adalah :
1.
Bahan
pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue)
yang bisa bersumber dari berita, rekaman, video, dan yang lainnya.
2.
Bahan
yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap
siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3.
Bahan
yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak
(universal), sehingga terasa manfaatnya.
4.
Bahan
yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus
dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5.
Bahan
yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk
mempelajarinya.
D. Tahapan-tahapan SPBM
John Dewey seorang
ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah SPBM yang kemudian
dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu :
1.
Merumuskan
masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
2. Menganalisis masalah[12], yaitu langkah siswa meninjau masalah secara
kritis dari berbagai sudut pandang.
3. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan
pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4.
Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari
dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. . Guru
mendorong siswa siswi untuk mengumpulkan informassi yang sesuai.[13]
5.
Pengujian
hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai
dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
6.
Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah,
yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai
rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
David Johnson & Johnson mengemukakan ada 5 langkah SPBM melalui
kegiatan kelompok, yaitu :
1.
Mendefinisikan
masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu
konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam
kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu
hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2.
Mendiagnosis
masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis
berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat
mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi
kelompok kecil, hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan
prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghamba yang diperkirakan.
3.
Merumuskan
alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan
melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswadidorong untuk berpikir
mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang
dapat dilakukan.
4.
Menentukan
dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi
mana yang dapat dilakukan.
5.
Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses
maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi tehadap seluruh kegiatan
pelaksanaan kegiatan, sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat
dari penerapan strategi yang diterapkan.[14]
Sesuai dengan tujuan SPBM, yaitu untuk menumbuhkan sikap ilmiah
dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan para ahli, maka secara umum SPBM
dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut, yaitu:
1.
Menyadari
masalah.
Implementasi SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya maslah yang
harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya
kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.
Kemampuan yang harus dicapai siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat
menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang
ada. Mungkin pada tahap ini siswa dapat menemukan kesenjangan lebih dari satu,
akan tetapi guru dapat mendorong siswa agar menentukan satu atau dua
kesenjangan yang pantas dikaji baik melalui kelompok besar atau kelompok kecil
atau bahkan individual.
2.
Merumuskan
masalah.
Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari dari
kesenjangan, selanjutnya difokuskan pada masalah apa yang pantas dikaji.
Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan dengan
kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data
apa saja yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang
diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas
masalah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengkaji, merinci, dan
menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas,
spesifik, dan dapat dipecahkan.
3.
Merumuskan
hipotesis.
Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari
berpikir deduktif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah
penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan yang diharapkandari siswa
dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang
ingin diselesaikan. Melalui analisis akibat inilah pada akhirnya siswa
diharapkan dapat menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. Dengan
demikian, upaya yang dapat dilakukan selanjutnya adalah mengumpulkan data yang
sesuai dengan hipotesis yang diajukan.[15]
4.
Mengumpulkan
data.
Sebagai proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses
berpikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting. Sebab, menentukan cara penyelesaian
masalah sesuai hipotesis yang diajukan harus sesuai dengan data yang ada.
Proses berpikir ilmiah bukan proses berimajinasi akan tetapi proses yang di
dasarkan pada pengalaman. Oleh karena itu, dalam tahapan ini siswa didorong
untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini
adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan memilah data, kemudian memetakan dan
menyajikannya dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.
5.
Menguji
hipotesis
Berdasarkan data yang dikumpulkan, akhirnya siswa menentukan
hipotesis mana yang diterima dan mana yang ditolak. Kemampuan yang diharapkan
dari siswa dalam tahapan ini adalah kecakapan dalam menelaah data dan sekaligus
membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji. Disamping itu
diharapkan juga siswa dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6.
Menentukan
pilihan penyelesaian
Menentukan pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM.
Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif
penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan
kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya,
termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.[16]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan mengenai Strategi pembelajaran berbasis
masalah (SPBM), dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya sebaigai berikut:
1.
Strategi
pembelajaran berbasis masalah (SPBM) merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran
yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah,
juga merupakan pengembangan dari inquiri karena
siswa dilatih dalam mengolah kemampuan berfikir dan kreatif,
mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
2.
Adapun
karakteristik dalam pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut; Permasalahan
menjadi starting point dalam belajar, Permasalahn yang akan diangkat adalah
permasalahan yang ada didunia nyata yang tiak terstrukur, Permasalahan
membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective)Permasalahan, menantang
pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian
membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.
3.
Langkah-langkah
dalam strategi pembelajaran berbasis masalah adalah Merumuskan masalah, yaitu
langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan, Menganalisis masalah,
Merumuskan hipotesis, Mengumpulkan data, Pengujian hipotesis, Merumuskan
rekomendasi pemecahan masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Depdikbud. Pokok-pokok
Pengajaran Biologi dan Kurikulum (Jakarta: Depdikbud. 1994.
Suprihatiningrum,
Jamil. Strategi Pembelajaran:Teori & Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruz
Media, 2016.
Jurnal
Kependidikan Nomor I tahun XXXVII Mei 2007 , ditebitkan oleh Lembaga Peneltian
UNY.h.1-22.
Nursalam, Strategi
Pembelajaran Matematika: Teori dan Aplikasi Bagi Mahasiswa PGMI (Makassar:
Alauddin University Press, 2013.
Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru Cet.
II, Cet.VI: Jakarta: Rajawali Pers, 2016.
Sadirman, N . dkk. Ilmu Pendidikan. Bandung, Remaja Rosdakarya,
1991.
Sanjaya,
Wina Stategi. Pemvelajaran ,
Orientasi Standar Proses Pendidikan . Cet; XIV. Jakarta: Prenamedia Group,
2014.
[1] Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (Cet:
VI. Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 229.
[2]Rusman, Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru,
h.229.
[3]Jurnal
Kependidikan Nomor I tahun XXXVII Mei 2007 , ditebitkan oleh Lembaga Peneltian
UNY.h. 5. 1-22.
[4]Sadirman, N .
dkk. Ilmu Pendidikan. Bandung, Remaja Rosdakarya, 1991), h. 146.
[5]Jamil
Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran:Teori & Aplikasi
(Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2016) h. 215
[6]Rusman, Model-model
Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, h.232
[7] Wina Sanjaya, Stategi
Pemvelajaran , Orientasi Standar Proses Pendidikan (Cet; XIV. Jakarta:
Prenamedia Group, 2014), h. 231
[8]Rusman,
Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru , h. 30
[9]Wina Sanjaya, Stategi
Pemvelajaran , Orientasi Standar Proses Pendidikan, h. 215.
[10] Rusman,
Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, h.232
[11]Wina Sanjaya, Stategi
Pemvelajaran , Orientasi Standar Proses Pendidikan, h, 216.
[12]Depdikbud. . Pokok-pokok
Pengajaran Biologi dan Kurikulum (Jakarta: Depdikbud. 1994), h. 23.
[13]Nursalam, Strategi
Pembelajaran Matematika: Teori dan Aplikasi Bagi Mahasiswa PGMI (Makassar:
Alauddin University Press, 2013) h. 13 .
[14]Wina Sanjaya, Stategi
Pemvelajaran , Orientasi Standar Proses Pendidikan, h, 216.
[15] Wina Sanjaya, Stategi
Pemvelajaran , Orientasi Standar Proses Pendidikan, h, 219.
[16]Wina Sanjaya, Stategi
Pemvelajaran , Orientasi Standar Proses Pendidikan, h, 220.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar